Shanti Ardhini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM KOMPETENSI DASAR MENDESKRIPSIKAN PROSES PEWARISAN SIFAT DAN HASIL PEWARISAN SIFAT BESERTA PENERAPANNYA MELALUI PENDEKATAN INQUIRY  BERBANTUAN MEDIA MIKA DAN KERTAS PADA SISWA KELAS IX A  SMP NEGERI 3 BLADO TAHUN PELAJARAN 2017/2018

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM KOMPETENSI DASAR MENDESKRIPSIKAN PROSES PEWARISAN SIFAT DAN HASIL PEWARISAN SIFAT BESERTA PENERAPANNYA MELALUI PENDEKATAN INQUIRY BERBANTUAN MEDIA MIKA DAN KERTAS PADA SISWA KELAS IX A SMP NEGERI 3 BLADO TAHUN PELAJARAN 2017/2018

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM KOMPETENSI DASAR MENDESKRIPSIKAN PROSES PEWARISAN SIFAT DAN HASIL PEWARISAN SIFAT BESERTA PENERAPANNYA MELALUI PENDEKATAN INQUIRY

BERBANTUAN MEDIA MIKA DAN KERTAS PADA SISWA KELAS IX A

SMP NEGERI 3 BLADO TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Shanti Ardhini)*

shanti-ardhini@yahoo.com

Abstrak: rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah penerapan pendekatan inquiry dengan berbantuan media mika dan kertas meningkatkan hasil belajar dan seberapa besar peningkatkannya pada materi pewarisan sifat. Penelitian ini dilaku-kan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sikuls I terjadi peningkatkan hasil belajar siswa yang mencapai ketuntasan belajar (diatas KKM) sejumlah 33%, yaitu meningkat dari 38% pada kegiatan prasiklus menjadi 61% pada siklus I, dan 20% pada siklus II yaitu meningkat dari 61% menjadi 81 %. Sedangkan aktivitas belajar siswa secara rata-rata dalam kategori baik sekali.

Kata kunci : media mika dan kertas, hasil belajar, pewarisan sifat dan hasil pewarisan sifat

PENDAHULUAN


Pendidikan IPA diarahkan untuk inquiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (BSNP, 2006).

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Pada tingkat SMP, diharapkan ada penekanan pembelajaran saling temas ( sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat mutu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi kerja ilmiah secara bijaksana (Depdiknas, 2006)

Pembelajaran IPA seharusnya dapat dilaksanakan dengan menerapkan sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar sehingga dapat menerapkan konsep-konsep IPA dalam kehidupan sehari- hari. Hal ini sesuai dengan kurikulum 2006 yang diterapkan di SMP Negeri 3 Blado pada tahun pelajaran 2017/2018.

Pencapaian Kompetensi Dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya pada kelas IX semester 1 tergolong rendah jika dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM) mata pelajaran IPA sebesar 70 yang diterapkan di SMP Negeri 3 Blado pada tahun pelajaran 2016/2017 . Hal ini dapat dilihat dari pencapaian hasil belajar siswa pada Kompetensi Dasar diatas pada tahun pelajaran 2016/1017 sebagaimana tabel berikut:

Tabel 1. Tabel Pencapaian Hasil Belajar siswa pada Kompetensi Mendeskripsikan Proses Pewarisan Sifat TP 2016/2017

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 - 59

5 siswa

2

60 – 69

10 siswa

3

70 – 79

5 siswa

4

80 - 100

3 siswa

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pencapaian kompetensi pada KD tersebut rendah. Terdapat 15 siswa yang tidak mencapai KKM atau 65% dari jumlah siswa. Dan hanya 8 siswa yang mencapai KKM atau 35% dari jumlah siswa. Perolehan hasil belajar ini secara klasikal tidak memenuhi standar ketuntasan belajar klasikal sebesar 85 %.

Pembelajaran IPA pada kompetensi dasar Mendeskripsikan proses pewarisan sifat dan hasil pewarisan sifat secara ideal seharusnya dapat dipahami siswa dengan baik,sehingga pencapaian hasil belajar siswa pada kompetensi dasar tersebut tinggi dan mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 85% siswa .

Hasil belajar siswa yang rendah dapat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya : materi pelajaran, media pembelajaran, buku referensi belajar dan motivasi belajar siswa. Pemahaman terhadap materi pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa dapat ditingkatkan dengan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran.Penggunaan media pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran.

Pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya,merupakan salah satu materi yang bersifat abstrak sehingga pemahaman siswa perlu dibantu dengan penggunaan media inofatif Mika dan Kertas.

Peendekatan inquiry berbantuan media inovatif mika dan kertas diyakini dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya. Hal ini dikarenakan penggunaan media inovatif mika dan kertas diyakini dapat merubah konsep abstrak menjadi konsep konkrit sehingga pemahaman siswa terhadap konsep tersebut dapat meningkat

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) apakah penerapan pendekatan inquiry dengan berbantuan media mika dan kertas, dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi Pewarisan Sifat pada siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado kelas Tahun Pelajaran 2017/2018? dan 2) bagaimana-kah peningkatan hasil belajar siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado dalam materi Pewarisan sifat dengan diterapkannya pendekatan Inqury berbantuan media Mika dan Kertas?

Tujuan Penelitian ini adalah 1) meningkatkan hasil belajar siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado Tahun Pelajaran 2017/2018dengan menerapkan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas dan 2) mendeskripsikan Seberapa besar peningkatan hasil belajar pada kompetensi mendeskripsikan konsep pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya pada siswa kelas IX A SMP Negeri 3 Blado Tahun Pelajaran 2017/2018

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas dapat dijadikan pemicu motivasi belajar sehingga hasil belajar IPA meningkat.

KAJIAN TEORI

Pewarisan Sifat

Pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya disebut Hereditas. Cabang biologi yang mempelajari tentang hereditas adalah genetika. Pembawa sifat dari induk kepada keturunannya adalah gen. Gen adalah sepasang DNA yang menentukan sifat tertentu atau membawa ciri tertentu. Gen terletak didalam kromosom,kromosom terletak didalam inti sel.

Hereditas Menurut Mendel

Untuk membuktikan kebenaran teorinya,Mendel telah melakukan percobaan dengan membastarkan tanaman-tanaman yang mempunyai sifat beda. Tanaman yang dipilih adalah tanaman kacang ercis (Pisum sativum). Alasannya tanaman tersebut mudah melakukan penyerbukan silang, mudah di dapat, mudah dipelihara, berumur pendek atau cepat berbuah, dapat terjadi penyerbukan sendiri, mempunyai sifat-sifat yang mencolok misalnya: warna bunga (ungu atau putih),warna biji(kuning atau hijau), warna buah (hijau atau kuning), bentuk biji (bulat atau kisut ), sifat kulit (halus atau kasar), serta ukuran batang (tinggi atau rendah).

Persilangan

Persilangan Menurut Mendel ada 2 macam yaitu 1) Persilangan Monohibrid, merupakan persilangan dengan satu sifat beda. Contoh : Disilangkan kacang ercis berbunga merah (MM) dengan kacang ercis berbunga putih (mm), Bagaimanakah perbandingan genotife dan genotife F2 nya

P1 : MM X mm

Fenotife : (merah) (putih)

Gamet : M m

F1 : Mm

Fenotife : (merah)

Dari persilangan F1 , diperoleh :

P2 : Mm X Mm

Fenotipe : merah merah

M

M

M

MM (merah)

Mm (merah)

M

Mm ( merah)

Mm (putih)

Gamet :

Perbandingan genotife F2

= MM : Mm : mm = 1 : 2 : 1

Perbandingan Fenotife F2

= Merah : Putih = 3 : 1

2) Persilangan Dihibrid, merupakan persilangan dengan 2 sifat beda. Contoh: Disilangkan tanaman kapri berbiji bulat berwarna kuning (BBKK) dominan dengan tanaman kapri berbiji keriput berwarna hijau(bbkk). Bagaimanakah perbandingan fenotipe dan genotipe F2 ?

P1 : BBKK X bbkk

Fenotipe ( bulat kuning)(keriput hijau)

Gamet : BK bk

F1 : bKk ( Bulat Kuning)

Dari persilangan sesama F1 didapatkan :

P2 : BbKk X BbKk

( bulat kuning) (bulat kuning)

Gamet : BK BK Bk Bk

bK bK

bk bk

Perbandingan genotif pada F2 adalah sebagai berikut

BBKK:BBKk:BbKK:BbKk:BBkk:Bbkk:bbKK:bbKk:bbkk

= 1 : 2 : 2 : 4 : 1 : 2 : 1 : 2 : 1

Perbandingan fenotipe F2

= Bulat kuning: bulat hijau: keriput kuning:keriput hijau

= 9 : 3 : 3 : 1

Media pembelajaran Mika dan Kertas

Menurut Muhaimin (1996 : 46), belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku seseorang. Perubahan tingkah laku tersebut diperoleh setelah peserta didik menyelesaikan program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar.

Pendapat Surya dalam Ibrahim (2015:137) mengatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku individu secara keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi hasil belajar yang sering disebut prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, atau diciptakan secara individu atau kelompok. Penjelasan tentang belajar ada bermacam-macam dan berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Hal ini dikarenakan sudut pandang yang di pakai dalam menjelaskan masalah belajar berbeda-beda.

Dari definisi belajar diatas dapat dikemukakan ciri-ciri belajar sebagai berikut:

a) Belajar merupakan kegiatan yang berlangsung secara aktif dan dilakukan dengan sengaja. Jadi belajar merupakan kegiatan yang terencana bukan kegiatan coba-coba, sehingga kegiatan belajar mempunyai tujuan dan b) Belajar merupakan kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada orang yang belajar. Sedangkan perubahan tingkah laku tersebut berlangsung dalam waktu yang lama atau bisa disebut permanen

Pendapat Hamalik dalam Rofik (2015:151) menyatakan bahwa hasil belajar pada aspek pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, ketrampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, budi pekerti, sikap dan lain-lain.

Berdasarkan beberapa teori hasil belajar diatas penulis menyimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari sebuah proses kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mendapatkan perubahan diri dari tidak mengerti menjadi mengerti,dari yang tidak paham menjadi paham karena bertambah wawasan dan ketrampilan sesuai dengan pengetahuan personal.

Media Pembelajaran

Peran media pembelajaran sangat penting,seperti Arsyad (2003:4) media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud pengajaran. Kehadiran media pembelajaran yang tepat akan membantu proses pembelajaran menuju pencapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan deskripsi tersebut diperlukan media pembelajaran yang tepat untuk membantu peserta didik meningkatkan hasil belajara siswa dalam materi persilangan.

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan wahana dari pesan / informasi berupa materi pembelajaran yang oleh sumber pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima pesan (peserta didik) dengan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada diri peserta didik

Beberapa alasan pentingnya penggunaan media dalam proses pembelajaran antara lain: 1) proses pembelajaran lebih berhasil bila peserta didik turut aktif dalam pembelajaran tersebut, 2) Pembelajaran lebih jelas dan menarik, dan 3) Meningkatkan peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.

Pendekatan Inquiry

Menurut Isriani: 2012, Inquiry adalah suatu cara yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas yang dapat dilakukan dengan cara anak didik diberi kesempatan untuk meneliti suatu masalah sehingga ia dapat menemukan cara penyelesaiannya.

Tujuan teknis inquiry adalah sebagai berikut : 1) Membentuk dan mengembangkan rasa percaya diri, 2) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, 3) Mengembangkan bakat dan kecakapan individu, 4) Memberi siswa kesempatan untuk belajar sendiri, 5) Mendorong siswa memperluas informasi

Media Pembelajaran ( mika dan kertas)

Media ini adalah media yang terbuat dari mika dan kertas yang digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami konsep persilangan.

Media Mika

Media mika berwarna warni yang dipotong menyerupai bunga terbukti dapat memudahkan siswa SMP dalam memahami konsep persilangan pada persilangan satu sifat beda ( monohibrid) intermediat. Pembelajaran tentang persilangan ini memanfaatkan plastik mika berwarna (merah,biru, kuning, atau warna lain) yang dipotong menyerupai bentuk bunga (bisa menyerupai juga buah) .

Media Kertas

Media kertas warna warni yang dipotong menyerupai bunga juga terbukti memudahkan siswa dalam memahami konsep persilangan satu sifat beda (monohibrid) penuh dan juga pada persilangan dua sifat beda ( dihibrid).

Penggunaan kertas warna warni ini bisa memudahkan siswa untuk memahami konsep persilangan karena bisa menentukan yang dominan dan resesif. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media mika dan kertas merupakan media pembelajaran yang menggunakan bahan berupa mika dan kertas pada pembelajaran materi pewarisan sifat

Hubungan Media pembelajaran mika dan kertas dengan materi pewarisan sifat

Pembelajaran materi pewarisan sifat bertujuan agar siswa dapat mendeskripsikan proses pewarisan sifat dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendeskripsian proses pewarisan sifat dan penerapannya merupakan proses berfikir abstrak. Dalam realitas pembelajaran pada materi tersebut siswa banyak mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan proses pewarisan sifat dan penerapannya. Hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan media pembelajaran mika dan kertas sehingga proses berfikir abstrak dapat dikonversikan menjadi proses berfikir konkrit.Dengan demikian pembelajaran pada materi pewarisan sifat dapat lebih mudah dipahami.

Kerangka berfikir

Pencapaian Kompetensi Dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya pada konsep hereditas kelas IX semester 1 tergolong rendah jika dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM) mata pelajaran IPA sebesar 70 yang diterapkan di SMP Negeri 3 Blado pada tahun pelajaran 2017/2018 . Hal ini dapat dilihat dari pencapaian hasil belajar siswa pada pelaksanaan prasiklus.

Pencapaian hasil belajar siswa yang rendah disebabkan guru dalam pembelajaran belum menggunakan pendekatan dan media yang tepat. Penggunaan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas pada materi persilangan monohibrid dan dihibrid diyakini dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa

Hipotesis Tindakan

Hipotesisi dalam penelitian ini adalah: Jika diterapkan pendekatan Inquiry berbantuan media mika dan kertas, maka dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 3 Blado

PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Blado,yang dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2017 untuk pra siklus, 28 Oktober 2017 siklus 1, dan 4 Nopember 2017 silus 2. Subyek penelitiannya siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado,dengan jumlah siswa 21 siswa

Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri atas,pra siklus,siklus 1 dan siklus 2.

Pra Siklus

Pada tahap Perencanaan, peneliti melakukan kegiatan: 1) Merencanakan pembelajaran konsep hereditas yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar, 2) Menentukan materi pokok yaitu konsep hereditas, 3) Mengembangkan RPP, 4) Menyusun LKS, 5) Menyiapkan sumber belajar, 6) Mengembangkan format evaluasi, dan 7) Mengembangkan format observasi pembelajaran, serta 8) Mengembangkan angket minat untuk siswa.

Pada tahap tindakan, peneliti melaksanakan kegiatan diskusi informasi dan ceramah. Pada saaat ini juga dilakukan pengamatan yaitu 1) Melakukan observasi dengan memakai format observasi, 2) Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LKS.

Tahap berikutnya adalah refleksi yaitu 1) Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan, meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap tindakan, 2) Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang LKS, skenario pembelajaran, 3) Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi,untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Evaluasi prasiklus, bahwa pada kegiatan pra siklus guru belum menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas sehingga hasil belajar siswa secara klasikal tidak mencapai ketuntasan belajar, sebagaimana tabel berikut

Tabel 2. Tabel Pencapaian Hasil Belajar Prasiklus

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 – 59

5 siswa

2

60 – 69

8 siswa

3

70 – 79

4 siswa

4

80 – 100

4 siswa

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 8 siswa (40 %), sedangkan yang lain sejumlah 13 siswa ( 60%) belum mencapai ketuntasan belajar, sehingga sangat perlu untuk dilakukan tindakan penelitian.

Siklus I

Pada tahap perencanaan, guru melakukan 1) Merencanakan pembelajaran persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar, 2) Menentukan materi pokok yaitu persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat, 3) Mengembangkan RPP persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat, 4) Menyusun LKS persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat, 5) Menyiapkan sumber belajar materi persilangan monohibrid dominan penuh dan inter mediat, 6) Mengembangkan format evaluasi, 7) Mengembangkan format observasi pembelajaran, 8) Mengembangkan angket minat untuk siswa. Pada saat ini juga dilakukan pengamatan yaitu 1) Melaksanakan kegiatan yang ada di LKS persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat menggunakan kertas warna-warni dan mika warna warni sampai menemukan perbandingan fenotif dan genotip F2nya. Tahap pengamatan, yaitu melakukan 1) Melakukan observasi dengan memakai format observasi oleh observer, 2) menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LKS.

Tahap berikutnya adalah melakukan refleksi, yaitu 1) Melakukan evaluasi evaluasi mutu,jumlah dan waktu dari setiap tindakan, 2) Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang LKS, skenario pembelajaran, 3) Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya. Dilanjutkan evaluasi siklus 1, bahwa pada kegiatan siklus I guru telah menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas dengan dibentuk 5 kelompok belajar siswa. Pencapaian hasil belajar siswa pada siklus ini secara klasikal tidak mencapai ketuntasan belajar, sebagaimana tabel berikut:

Tabel 3. Tabel Pencapaian Hasil Belajar Siklus I

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 – 59

3 siswa

2

60 – 69

5 siswa

3

70 – 79

8 siswa

4

80 – 100

5 siswa

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 13 siswa (65 %), sedangkan yang lain sejumlah 8 siswa ( 35%) belum mencapai ketuntasan belajar, sehingga sangat perlu untuk dilakukan tindakan siklus II.

Siklus II

Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan antara lain 1) Merencanakan pembelajaran persilangan dihibrid yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar, 2) Menentukan materi pokok tentang persilangan dihibrid, 3) Mengembangkan RPP persilangan dihibrid, 4) Menyusun LKS tentang persilangan dihibrid, 5) Menyiapkan sumber belajar tentang persilangan dihibrid, 6) Mengembangkan format evaluasi, 7) Mengembangkan format observasi pembelajaran, 8) Mengembangkan angket minat untuk siswa

Pada tahap tindakan, peneliti melakukan 1) Melaksanakan kegiatan yang ada di LKS persilangan dihibrid (dua sifat beda) menggunakan kertas warna-warni sampai menemukan perbandingan fenotip dan genotip F2nya. Pada saat ini juga dilakkukan pengamatan yaitu 1) Melakukan observasi dengan memakai format observasi oleh observer, 2) Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LKS

Tahap Refleksi meliputi 1) Melakukan evaluasi tindakan siklus II yang telah dilakukan, 2) Pada kegiatan siklus II guru telah menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas dengan dibentuk 7 kelompok belajar siswa. Pencapaian hasil belajar siswa pada siklus ini secara klasikal telah mencapai ketuntasan belajar, sebagaimana tabel berikut:

Tabel 4. Tabel Pencapaian Hasil Belajar Siklus II

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 – 59

2 siswa

2

60 – 69

2 siswa

3

70 – 79

10 siswa

4

80 – 100

7 siswa

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 17 siswa (80 %),sedangkan yang lain sejumlah 4 siswa ( 20%) belum mencapai ketuntasan belajar,dengan demikian ketuntasan belajar klasikal (75 %) telah terpenuhi. Sehingga tidak perlu dilakukan siklus berikutnya.

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi,angket,tes dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan butir soal. Observasi digunakan untuk menggali data mengenai proses pelaksanaan pembelajaran pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya di dalam kelas.

Sedangkan angket dilakukan terhadap siswa untuk menggali data tentang motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Ada 5 pernyataan di tiap siklus tentang motivasi belajar siswa yang harus dipilih sesuai pendapat siswa yaitu : ya dan tidak. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data hasil kinerja/ prestasi siswa dalam mempelajari kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya.

Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam setiap siklus penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Kegiatan analisis ini dimaksudkan untuk mengolah data pada masing-masing siklus apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas.

Cara yang ditempuh untuk menganalisis hasil kerja siswa adalah dengan melihat dan membandingkan skor hasil tes soal kemudian dihitung persentase siswa yang sudah tuntas pada masing-masing siklus. Apabila besar persentase ketuntasan siswa mengikuti hasil tes tersebut mengalami peningkatan sebesar 75%, dapatlah diartikan bahwa hasil belajar siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado telah meningkat sesuai dengan indikator keberhasilan,sehingga tidak perlu ada siklus berikutnya.

Sedangkan untuk menganalisis hasil observasi kegiatan siswa oleh observer adalah sebagai berikut : baik sekali dengan rentang 86 – 100%,baik dengan rentang 71 – 85%, cukup dengan rentang 60 – 70% dan kurang dengan rentang dibawah 60%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menyajikan hasil tes evaluasi maupun hasil observasi yang dilakukan oleh guru pada pembelajaran prasiklus, siklus I dan siklus II. Uraian tiap – tiap siklus adalah sebagai berikut

Deskripsi Hasil Prasiklus

Kegiatan prasiklus dilaksanakan 1 kali pertemuan ( 2 jam pelajaran) pada hari senin,23 Oktober 2017. Hasil belajar pada kompetensi dasar mendeskripsikan Konsep pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya dapat diketahui dari hasil tes evaluasi sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5. .Rekapitulasi hasil tes evaluasi Konsep pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 – 59

5 siswa

2

60 – 69

8 siswa

3

70 – 79

4 siswa

4

80 – 100

4 siswa

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 8 siswa (40 %),sedangkan yang lain sejumlah 13 siswa ( 60%) belum mencapai ketuntasan belajar. Dari analisis hasil belajar diketahui siswa belum memahami konsep pewarisan sifat,karena metode yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode diskusi informasi dan ceramah, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan kondusif, banyak siswa yang hanya diam pasif,tidak berani bertanya,ketika pelaksanaan diskusi banyak siswa yang tidak aktif, hal ini dibuktikan dengan tabel keaktifan siswa berikut ini

Tabel 6. Pengamatan keaktifan siswa pra siklus

NO

Kualifikasi

Jumlah siswa

1

Kurang

0

2

Cukup

14

3

Baik

7

4

Baik sekali

0

Pengamatan dilakukan dengan mengguna-kan lembar observasi dengan skor : 86 – 100 = baik sekali, 71 – 85 = baik, 60 – 70 = cukup, dibawah 60 = kurang.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam belajar masih menunjukkan kualifikasi cukup. Karena karena hanya terdapat 7 siswa dari 21 siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Deskripsi hasil Siklus I

Hasil penelitian pada pembelajaran siklus I meliputi hasil belajar siswa pada kompetensi mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya adalah sebagai berikut:

Tahap perencanaan

Tahap perencanaan tindakan yang dilakukan pada siklus I meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilengkapi instrumen penilaian,media mika dan kertas serta lembar observasi. Penyusunan rencana pelaksanaan( RPP) dilakukan dengan cara memperbaiki dengan menyesuaikan program pembelajaran yang telah dibuat di awal semester. RPP disusun sesuai dengan model RPP yang dilengkapi dengan pendekatan inquiry dengan bantuan media mika dan kertas.Pembuatan media mika dan kertas,dilakukan dengan mempertimbangkan standar kompetensi dan indikator. Media mika dibuat dengan menggunakan mika warna kuning dan biru,sedangkan media kertas digunakan kertas warna merah dan kuning. Lembar observasi aktifitas siswa dirancang untuk melakukan pengamatan dan penilaian pada aspek diskusi,kerjasama dan keaktifan.

Pelaksanaan Tindakan

Tindakan yang dilakukan pada pembelajaran mengacu pada perencanaan tindakan yang telah dibuat. Materi yang disajikan pada siklus I mengenai persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat. Siklus I dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (4 jam pelajaran), pertemuan pertama dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 28 oktober 2017 (2 jam pelajaran), pertemuan kedua dilaksanakan pada hari senin tanggal 30 oktober 2017 (2 jam pelajaran). Tes evaluasi dilaksanakan pada pertemuan kedua setelah kegiatan pembelajaran

Apersepsi, pada tahap ini guru menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan pertanyaan awal untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang pewarisan sifat. Menjelaskan cakupan materi

Kegiatan inti

Eksplorasi, Guru membagi siswa kedalam 5 kelompok diskusi. Guru menjelaskan pembuatan media kertas warna merah dan kuning untuk persilangan monohibrid dominan penuh serta pembuatan media menggunakan mika berwarna biru dengan kuning untuk persilangan intermediat. Guru menjelaskan tujuan pembuatan media mika dan kertas. Guru menjelaskan aturan pembuatan media mika dan kertas sesuai dengan petunjuk yang ada dalam LKS

Elaborasi, Guru memberi kesempatan siswa untuk berfikir,menganalisis dan menyelesaikan masalah media mika dan kertas yang telah diterima. Kelompok mendiskusikan materi yang terdapat pada media mika dan kertas serta alternatif isi dari media mika dan kertas tersebut sehingga dapat dimengerti oleh semua anggota kelompok

Gambar 1. Aktivitas siswa belajar

Gambar 2. Ssiswa berinteraksi dalam kelompok (siklus I)

Konfirmasi, Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan dan tertulis terhadap keberhasilan siswa. Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi. Guru memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar dengan memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh.

Gambar 3. Media Kertas pada persilangan monohibrid dominan penuh

Gambar 4. Media mika pada persilangan intermediat

Penutup, Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang hasilnya bagus. Guru bersama-sama dengan siswa membuat rangkuman /simpulan pelajaran. Guru memberikan umpan balik (tes evaluasi) terhadap proses dan hasil pembelajaran

Hasil Pengamatan

Dari hasil pelaksanaan siklus I hasil belajar tidak mencapai ketuntasan klasikal,hal ini dibuktikan dengan tabel hasil belajar berikut

Tabel 7. Hasil belajar pada siklus I

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 – 59

3 siswa

2

60 – 69

5 siswa

3

70 – 79

8 siswa

4

80 – 100

5 siswa

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 13 siswa (65 %),sedangkan yang lain sejumlah 8 siswa ( 35%) belum mencapai ketuntasan belajar.

Hal ini diyakini disebabkan jumlah anggota dalam satu kelompok siswa terlalu banyak (4 orang - 5 orang), sehingga dalam satu kelompok,tidak semua anggota berperan aktif,hanya beberapa siswa saja yang aktif,hal ini dapat dilihat dalam tabel keaktifan siswa berikut ini

Tabel 8. Keaktifan siswa pada siklus I

NO

Kualifikasi

Jumlah siswa

1

Kurang

0

2

Cukup

12

3

Baik

9

4

Baik sekali

0

Pengamatan aktifitas siswa dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dengan skor : 86 – 100 = baik sekali, 71 – 85 = baik, 60 – 70 = cukup, dibawah 60 = kurang.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam belajar masih menunjukkan kualifikasi cukup. Karena karena hanya terdapat 9 siswa dari 21 siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Refleksi

Pada siklus I telah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas secara kelompok materi persilangan monohibrid dominan penuh dan intermediat mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi prasiklus. Jika dibandingkan dengan kondisi prasiklus persentase hasil belajar meningkat dari 40% menjadi 65% dari jumlah siswa. Namun demikian peningkatan tersebut belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar klasikal yaitu 75% dari jumlah siswa. Sehingga masih diperlukan siklus berikutnya untuk perbaikan hasil belajar.

Deskripsi hasil Siklus II

Tahap perencanaan

Tahap perencanaan tindakan yang dilakukan pada siklus II meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilengkapi instrumen penilaian, media kertas warna-warni serta lembar observasi. Penyusunan rencana pelaksanaan( RPP) dilakukan dengan cara memperbaiki dengan menyesuaikan program pembelajaran yang telah dibuat di awal semester. RPP disusun sesuai dengan model RPP yang dilengkapi dengan pendekatan inquiry dengan bantuan media kertas warna-warni. Pembuatan media kertas warna-warni, dilakukan dengan mempertimbangkan standar kompetensi dan indikator. Media kertas digunakan kertas warna hijau dan kuning. Lembar observasi aktifitas siswa dirancang untuk melakukan pengamatan dan penilaian pada aspek diskusi,kerjasama dan keaktifan.

Pelaksanaan Tindakan

Tindakan yang dilakukan pada pembelajaran mengacu pada perencanaan tindakan yang telah dibuat. Materi yang disajikan pada siklus II mengenai persilangan dihibrid. Siklus II dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan ( 4 jam pelajaran), pertemuan pertama dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 4 Nopember 2017 (2 jam pelajaran), pertemuan kedua dilaksanakan pada hari senin tanggal 6 Nopember 2017 (2 jam pelajaran). Tes evaluasi dilaksanakan pada pertemuan kedua setelah kegiatan pembelajaran

Apersepsi

Guru menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan pertanyaan awal untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang pewarisan sifat. Menjelaskan cakupan materi

Kegiatan inti

Eksplorasi, pada kegiatan ini:Guru membagi siswa kedalam 7 kelompok diskusi, Guru menjelaskan pembuatan media kertas warna hijau dan kuning untuk persilangan dihibrid, Guru menjelaskan tujuan pembuatan media kertas warna warni, Guru menjelaskan aturan pembuatan media kertas warna-warni sesuai dengan petunjuk yang ada dalam LKS

Elaborasi, pada tahap ini Guru memberi kesempatan siswa untuk berfikir, menganalisis dan menyelesaikan masalah media kertas warna warni yang telah diterima, Kelompok mendiskusikan materi yang terdapat pada media kertas warna warni serta alternatif isi dari media kertas warna-warni tersebut sehingga dapat dimengerti oleh semua anggota kelompok

Gambar 5. Siswa berinteraksi dalam kelompok (siklus II)

Konfirmasi, pada tahap ini Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan dan tertulis terhadap keberhasilan siswa, Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi, Guru memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar dengan memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh.

Gambar 6 Konsep media Kertas pada persilangan dihibrid pada siklus II

Penutup, pada kegiatan ini: Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang hasilnya bagus. Guru bersama-sama dengan siswa membuat rangkuman /simpulan pelajaran. Guru memberikan umpan balik (tes evaluasi) terhadap proses dan hasil pembelajaran.

Hasil Pengamatan

Dari hasil pelaksanaan siklus II hasil belajar sudah mencapai ketuntasan klasikal, hal ini dapat dilihat dalam tabel hasil belajar berikut.

Tabel 9 Hasil belajar Siklus II

No

Rentang Nilai

Frekuensi

1

0 - 59

2 siswa

2

60 – 69

2 siswa

3

70 – 79

10 siswa

4

80 - 100

7 siswa

Pada kegiatan siklus II guru telah menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media kertas warna-warni dengan dibentuk 7 kelompok belajar siswa,setiap kelompok terdiri dari 3 siswa. Pencapaian hasil belajar siswa pada siklus ini secara klasikal telah mencapai ketuntasan belajar.

Siswa yang mencapai ketuntasan belajar 17 siswa (81 %),sedangkan yang lain sejumlah 4 siswa (19%) belum mencapai ketuntasan belajar.

Pencapaian hasil belajar pada siklus II diyakini dipengaruhi oleh peningkatan aktifitas belajar siswa dalam satu kelompok, hal ini dapat di lihat dalam tabel aktifitas siswa berikut

Tabel 10. Keaktifan siswa pada siklus II

NO

Kualifikasi

Jumlah siswa

1

Kurang

0

2

Cukup

1

3

Baik

9

4

Baik sekali

11

Refleksi

Pada siklus II telah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry berbantuan media kertas warna- warni secara kelompok materi persilangan dihibrid mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi siklus I. Jika dibandingkan dengan kondisi prasiklus persentase hasil belajar meningkat dari 65% menjadi 80% dari jumlah siswa.

Dengan demikian peningkatan tersebut sudah memenuhi kriteria ketuntasan belajar klasikal yaitu 75% dari jumlah siswa. Hal ini membuktikan bahwa semakin sedikit jumlah anggota kelompok diskusi siswa maka semua anggota kelompok berperan aktif dalam kerja kelompok dan diskusi sehingga siswa bisa lebih memahami proses pembelajaran yang berlangsung, sehingga hasil belajar sudah memenuhi kriteria ketuntasan klasikal .Sehingga tidak diperlukan siklus berikutnya .

Pembahasan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar pada kompetensi mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya. Hal tersebut karena guru belum menggunakan media yang tepat untuk membantu siswa mempelajari materi proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya sehingga siswa menganggap pelajaran IPA sulit,membosankan dan tidak menarik. Perlu pemilihan media yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut, media yang dimakud adalah media mika dan kertas.

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus ,yang diawali dengan prasiklus,penggunaan media pada siklus I menggunakan mika pada persilangan intermediat ,menggunakan media kertas warna-warni pada persilangan monohibrid penuh dengan membagi kelas menjadi 5 kelompok belajar . Pada siklus II menggunakan media kertas warna-warni untuk materi persilangan dihibrid,dengan membagi menjadi 7 kelompok belajar sehingga terjadi peningkatan aktifitas belajar dalam satu kelompok,hal ini dapat dilihat dalam grafik berikut

Gambar 10. Grafik peningkatan aktifitas belajar

Pada grafik di atas terlihat bahwa aktifitas belajar siswa pada kegiatan prasiklus dalam kategori cukup( 66%),sedangkan sejumlah 34% siswa melakukan aktifitas belajar dalam kategori baik,pada kegiatan siklus I sejumlah 57% siswa melakukan aktifitas belajar dalam kategori cukup,sedangkan sejumlah 43% siswa melakukan aktifitas belajar dalam kategori baik,dan pada kegiatan siklus II sejumlah 5% siswa melakukan aktifitas belajar dalam kategori cukup,sedangkan 40% siswa melakukan aktifitas belajar dalam kategori baik dan 54% siswa melakukan aktifitas belajar dalam kategori baik sekali

Dengan peningkatan aktifitas siswa terjadi juga pada peningkatan hasil belajar siswa,hal ini dapat dilihat dari grafik berikut

Gambar 11. Grafik hasil belajar siswa

Dari grafik diatas terlihat bahwa terjadi peningkatan persentase jumlah siswa yang hasil belajarnya diatas KKM (70) berturut-turut dari prasiklus sampai siklus II. Pada kegiatan prasiklus persentase jumlah siswa yang hasil belajarnya diatas KKM sejumlah 38%, pada kegiatan siklus I jumlah siswa yang hasil belajarnya diatas KKM sejumlah 61% dan pada kegiatan siklus II jumlah siswa yang hasil belajarnya diatas KKM sejumlah 81 %.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya dengan pendekatan inquiry berbantuan media mika dan kertas yang diterapkan dalam kelompok belajar siswa dalam jumlah sedikit( 3 siswa dalam 1 kelompok) dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Efektifitas pembelajaran tersebut berakibat pada terjadinya peningkatan hasil belajar siswa.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) pendekatan inquiri berbantuan media mika dan kertas dapat meningkatkan hasil belajar kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya bagi siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado pada semester I tahun pelajaran 2017/2018.

Dari data empirik diperoleh melalui pendekatan inquiri berbantuan media mika dan kertas dapat meningkatkan hasil belajar kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat, dari 65% (rendah) pada kondisi awal menjadi 81 % ( tinggi) pada kondisi akhir. 2) Dalam pembelajaran kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya, pada siswa kelas IXA SMP Negeri 3 Blado pada semester I tahun pelajaran 2017/2018 yang menggunakan pendekatan inquiri berbantuan media mika dan kertas terjadi peningkatan hasil belajar siswa.

Pada siklus I ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 65% dan pada kondisi akhir menjadi 81%. Dengan demikian terjadi peningkatan hasil belajar pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya.

Saran

Berdasarkan simpulan diatas dapat diberikan saran sebagai berikut : 1) Penelitian ini perlu di uji coba pada subyek yang lain, 2) Perlu dilakukan pengembangan pendekatan inquiri berbantuan media mika dan kertas pada kompetensi dasar mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat beserta penerapannya dengan subyek yang berbeda karena penelitian ini hanya mengkaji hasil belajar dan aktifitas siswa saja, 3) Perlu dirancang pembelajaran menggunakan media mika dan kertas dengan berbagai metode dan pendekatan pembelajaran yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Press.

Hardini, Isriani, 2012. Strategi Pembelajaran Terpadu, Yogyakarta, Familia (Group Relasi Intimedia).

Ibrohim, Asrori, 2014. “ Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Mendeskripsikan gejala- gejala yang terjadi di Atmosfer dan hidrosfer melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example pada peserta didik kelas VIIE SMP Negeri 5 Petarukan semester 2 th pelajaran 2012/2013.” Widya Cendikia

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pembelajaran sangat bagus, sangat menginspirasi.

27 Feb
Balas

Semangat Bu, Sukses selalu...

12 Mar
Balas

Ternyata berani mencoba dan mulai mau menulis akan indah pada waktunya ya Bu Shanti... Terus berkarya bu.....

10 Mar
Balas

Semangat bu ....tahun depan ganti lagi dengan model pembelajaran yang berbeda

27 Feb
Balas

Siip,sukses selalu..

27 Feb
Balas

Siip,sukses selalu..

27 Feb
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali